Mengenal FOMO (Fear of Missing Out), Dampak, dan Cara Mengatasinya

Putri Prima
Putri Prima

Lulusan Ilmu Komunikasi yang mendalami dunia content writing, khususnya di bidang karir dan bisnis.

Isi Artikel

FOMO adalah– Pernahkah kamu takut ketinggalan suatu trend atau informasi? Jika iya, hati-hati bisa jadi itu tandanya kamu FOMO. Yap, istilah FOMO adalah sebuah fenomena di mana seseorang selalu merasa ingin menang dan tidak ingin ketinggalan dari orang lain.

Dampak FOMO ini punya pengaruh besar kepada hubungan sosial dan juga hal lainnya dalam keseharian kita. Pasalnya, bila seseorang telah mengalami FOMO, ia bahkan rela melakukan apa saja termasuk mengeluarkan banyak uang untuk hal tidak penting.

Lalu, sebenarnya apa sih FOMO itu? Apakah bisa diatasi? Mari simak penjabarannya di bawah ini!

Apa Itu FOMO?

Fear of missing out adalah

FOMO adalah singkatan dari Fear Of Missing Out, yang diartikan sebagai perasaan gugup dan cemas seseorang, ketika ia ketinggalan suatu kabar atau trend.

Istilah FOMO dicetuskan pertama kali oleh Dr. Andrew K. Przybylski pada tahun 2013. Sindrom FOMO membuat orang yakin bahwa setiap momen berharga yang dialami orang lain tidak boleh dilewatkan.

Ketika mengalami FOMO, seseorang merasa bahwa jika seseorang merasakan kesenangan dan memiliki pengalaman yang lebih baik darinya, maka ia juga harus melakukan hal yang sama juga.

Hal ini banyak dialami oleh generasi milenial dan gen Z, yang kesehariannya tidak pernah lepas dari media sosial. Mereka merasa harus mengikuti trend yang sedang terjadi di media sosial agar tidak disebut ketinggalan zaman.

FOMO dan Media Sosial

FOMO karena sosial media

Seperti yang sudah sedikit disinggung di atas, media sosial menjadi salah satu penyebab mengapa fenomena satu ini muncul. Dalam jurnal Psychiatry Research, ditemukan bahwa FOMO berhubungan dengan penggunaan media sosial.

Media sosial menjadi salah satu tempat orang menunjukkan eksistensi, kemampuan, hingga gaya hidup. 

Bahkan, tidak sedikit juga dari media yang mencitrakan di media sosial bahwa mereka  memiliki kehidupan yang sempurna. 

Hal ini membuat sebagian orang jadi membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan orang lain yang terlihat sangat luar biasa. Mereka jadi bertanya-tanya "kenapa hidup kamu membosankan, sedangkan hidup orang lain menyenangkan."

Orang yang mengalami FOMO akan merasa tertinggal atau merasa memiliki derajat sosial yang rendah dari orang lain.

Sebuah penelitian menemukan, anak remaja yang lebih sering menggunakan media sosial akhirnya mengalami FOMO. Salah satu penelitian lainnya juga mengatakan bahwa FOMO bisa dialami siapa saja baik tua maupun muda, baik pria maupun wanita.

Fenomena FOMO dalam Investasi Saham

Seiring mulai terkenalnya tren investasi, FOMO juga menjadi salah satu istilah yang akrab dalam dunia saham yang dikenal dengan sebutan FOMO saham. Tidak jauh berbeda dengan pengertian FOMO secara umum, FOMO saham juga diartikan sebagai perasaan takut ketinggalan akan peluang besar dalam pasar saham yang sedang tren.

Orang yang mengalami FOMO saham akan melakukan investasi tanpa melakukan analisis risiko terlebih dulu. Aktivitasnya dalam bermain saham juga tidak berpengaruh pada pergerakan pasar, tapi lebih kepada mana saham yang sedang dibicarakan.

BACA JUGA: Seberapa Penting Self- Awareness dan Bagaimana Cara Meningkatkannya?

Dampak FOMO

Mengutip dari Psychology Today, FOMO menimbulkan dampak negatif. Dalam penelitian yang dilakukan di Carlton and McGill University menunjukkan bahwa FOMO erat kaitannya dengan emosi negatif dan stres. Bahkan, para peneliti juga meyakini bahwa orang yang memiliki FOMO sering mengalami kurang tidur dan mudah lelah.

Selain itu, dalam sebuah artikel di Computers and Human Behavior, menemukan bahwa orang yang merasakan FOMO memiliki tingkat kepuasan hidup rendah. FOMO juga menimbulkan berbagai perilaku tidak sehat, seperti tidak fokus.

Berikut ini beberapa dampak FOMO yang memengaruhi kehidupan kita.

1. Menimbulkan Perasaan Negatif

Banyak riset yang mengatakan bahwa orang terlalu sering melihat momen liburan orang lain akan merasa kurang nyaman dan lebih mudah merasa kesepian. Bahkan, berdasarkan suatu survei mengatakan bahwa 60% remaja akan merasa khawatir ketika teman-temannya bersenang-senang tanpa dirinya.

2. Meningkatkan Risiko Masalah Psikologis

FOMO dapat meningkatkan risiko gangguan mental, seperti gangguan cemas dan depresi. Seorang yang mengalami FOMO menjadi sangat terobsesi untuk mempertahankan image diri mereka di media sosial. Jika hal ini tidak tercapai, mereka akan menjadi stres dan depresi.

3. Menurunkan Rasa Percaya Diri

Ketika mengalami FOMO, kamu jadi sering membandingkan dirimu dengan orang lain dan menjadi tidak percaya diri karena merasa hidup orang lain lebih baik darimu. Hal ini juga bisa menjadi pemicu stres.

4. Mengganggu Produktivitas

Bila sudah mengalami FOMO ditambah kecanduan media sosial, seseorang bisa menjadi lupa diri dan selalu fokus pada smartphone mereka dimanapun. Hal ini membuat mereka jadi sulit berkonsentrasi saat bekerja atau belajar, sehingga produktivitasnya menurun.

5. Menghabiskan Uang untuk Hal Tidak Penting

FOMO juga berdampak pada finansial, seorang yang mengalami FOMO bisa menjadi sangat konsumtif karena ia cemas dan khawatir akan tertinggal dari orang di sekitarnya. Ia rela mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang yang tidak ia butuhkan.

6. Nekat Berhutang

FOMO adalah sindrom yang membuat seseorang rela melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa gelisah dan takut ketinggalan sesuatu. Bahkan, mereka yang FOMO rela mengambil pinjaman supaya bisa memenuhi keinginan mereka.

7. Sulit Menabung

Dampak negatif FOMO pada finansial adalah membuat orang tersebut sulit menabung. Hal ini karena mereka menghabiskan uang mereka untuk mengikuti tren yang sedang populer.

Cara Mengatasi FOMO

Cara mengatasi FOMO

Jika kamu merasa mengalami FOMO, tenang ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk  mengatasinya.

1. Coba Batasi Penggunaan Gadget

Batasilah penggunaan gadget, kamu bisa membuat jadwal atau menentukan batas waktu bermain media sosial, misalnya kamu hanya akan membuka media sosial di jam 12 siang dan 5 sore, dan tidak lebih dari 15 menit.

Untuk mengalihkan perhatianmu dari media sosial, cobalah lakukan kegiatan positif seperti mengikuti kursus online, olahraga, memasak, atau quality time dengan orang-orang terdekat. Kamu juga bisa mencoba detoks media sosial untuk mengatasi FOMO.

2. Mengubah Konten

Cobalah saring konten-konten yang kamu lihat di media sosial. Misalnya konten-konten yang hanya memperlihatkan gaya hidup mewah, kesenangan, lalu coba ikuti akun-akun yang bisa memberi kamu informasi dan ilmu berharga. Dengan begini media sosialmu akan lebih positif dan mengurangi FOMO.

3. Lakukan Meditasi

Selain membatasi penggunaan media sosial, cobalah luangkan waktu untuk meditasi. Kegiatan ini akan membantumu menjernihkan pikiran dan mengurangi rasa cemas.

Setelah FOMO Terbitlah JOMO

Tahukah kamu kalau ada lawan kata dari FOMO, namanya JOMO atau Joy Of Missing Out. Berbeda dari FOMO yang takut sekali ketinggalan, JOMO justru merasa tidak terganggu dengan apa yang sedang terjadi di media sosial, tren apa yang sedang ramai, mereka cenderung acuh.

JOMO didefinisikan sebagai perasaan puas dan cukup dengan hidupnya sehingga mereka bebas dan lebih fokus pada hal-hal yang memang mereka senangi. Orang yang menerapkan JOMO dapat mengendalikan obsesi berlebih dan membatasi diri dari penggunaan media sosial.

Nah, itulah hal yang perlu kamu tahu tentang FOMO, semoga setelah mengetahuinya kamu bisa lebih bijak dalam bermain media sosial.

Jika kamu FOMO mengapa orang-orang bisa cepat dapat kerja, jawabannya adalah karena mereka melamar kerja di aplikasi KitaLulus. Di aplikasi KitaLulus ada ribuang lowongan dari berbagai perusahaan yang tersebar di kota-kota besar Indonesia.

Selain itu, proses melamarnya juga mudah, cukup download aplikasinya, lengkapi profil, lamar. Kemudian lamaran akan langsung masuk ke WhatsApp HRD. Yuk, download aplikasi KitaLulus sekarang dan cari kerja dengan #LebihMudah!

Close Pop up