THR Karyawan Swasta (Tunjangan Hari Raya): Wajib atau Sekedar Kebijakan Perusahaan?

Shirley Candrawardhani
Shirley Candrawardhani

Passion menulis di bidang karir dan bisnis. Mulai aktif menulis dari 2012 dan sampai kapan pun.

tunjangan hari raya
Isi Artikel

Selain gaji yang dibayarkan setiap bulannya, karyawan tentunya sangat menantikan tunjangan hari raya. Tunjangan hari raya diberikan kepada karyawan bukanlah sebuah kebijakan dari perusahaan, melainkan sudah peraturan pemerintah.

Menghitung tunjangan hari raya pun tidak sembarang. Ada cara menghitung THR yang sudah ditetapkan. Tidak hanya itu, pemerintah juga menentukan sejumlah sanksi bagi perusahaan yang tidak memberikan tunjangan hari raya kepada karyawannya.

Memangnya tunjangan hari raya itu apa? Mengapa ada peraturan yang menetapkan setiap perusahaan harus memberikannya kepada karyawan? Mari kita simak penjelasan yang sudah dirangkum di bawah ini.

BACA JUGA: Cek Di Sini! Cara Mudah Menghitung Gaji Karyawan

THR Adalah

Menurut Kementerian Tenaga Kerja, tunjangan hari raya atau THR adalah pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh pemberi kerja kepada karyawan atau keluarganya menjelang hari raya keagamaan.

Hari raya keagamaan di antara lain ada hari raya Idul Fitri bagi karyawan beragama Islam, hari raya Natal untuk karyawan beragama Katolik dan Protestan, hari raya Nyepi bagi karyawan beragama Hindu, dan hari raya Waisak bagi karyawan beragama Budha.

Kementerian Tenaga Kerja juga menyebutkan di Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6 Tahun 2016 bahwa, pemberian tunjangan hari raya ini sifatnya wajib dibayarkan kepada karyawan yang sudah mengeluarkan tenaga mereka untuk perusahaan.

Menurut peraturan tersebut, pihak yang berkewajiban untuk memberikan THR adalah pengusaha. Seperti:

  • Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan miliki sendiri
  • Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya
  • Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia

Siapa yang Berhak Mendapatkan THR Karyawan Swasta?

Dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia No. M/6/HK.04/IV/2021, terkait peraturan THR 2021 mengatur tentang syarat-syarat karyawan yang menerima tunjangan hari raya, ketentuan, dan kebijakan untuk perusahaan yang tidak bisa memberikan tunjangan hari raya kepada karyawannya.

Berdasarkan pada peraturan THR 2021, karyawan yang berhak mendapatkan THR adalah:

  • Karyawan yang sudah bekerja di perusahaan secara terus menerus (di hari aktif kerja) selama minimal satu bulan
  • Karyawan yang telah menandatangani kontrak PKWTT atau PKWT dengan perusahaan
  • Pada saat tunjangan hari raya dibayarkan, karyawan masih dalam status aktif, tidak mengundurkan diri atau di-PHK

Jika karyawan di perusahaan Anda memenuhi ketiga syarat di atas, maka Anda berkewajiban untuk memberikan tunjangan hari raya kepada karyawan yang berhak. Namun jika salah satu syarat tidak dipenuhi, maka karyawan tersebut tidak berhak mendapatkan tunjangan hari raya.

Lalu bagaimana dengan karyawan non-muslim? Apakah mereka bisa menerima tunjangan hari raya juga? Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa, Hari Raya Keagamaan tidak hanya bagi umat muslim saja, tetapi bagi seluruh agama yang berlaku di Indonesia.

Sesuai dengan Peraturan Kementerian Tenaga Kerja pasal 5 ayat (1) No/ 6 Tahun 2016 menyebutkan bahwa, pembayaran tunjangan hari raya diberikan setiap satu kali dalam setahun sesuai dengan Hari Raya Keagamaan masing-masing pegawai, karyawan, atau pekerja.

Namun hal itu tergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan. Sebagai pemilik usaha dan pemberi kerja, Anda boleh saja memberikan tunjangan hari raya pada Hari Raya Keagamaan lain.

Berdasarkan laman website kominfo.go.id menyebutkan bahwa bagi perusahaan yang telah mengatur pembayaran THR keagamaan dalam perjanjian kerja, Peraturan Perusahaan (PP), atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB), dan ternyata lebih baik dan lebih besar dari ketentuan diatas, maka THR yang dibayarkan kepada pekerja atau buruh harus dilakukan berdasarkan pada PP atau PKB tersebut.

Selanjutnya, pemerintah juga mengatur waktu pembayaran tunjangan hari raya karyawan selambat-lambatnya tujuh hari sebelum tanggal Hari Raya Keagamaan. Hal ini bertujuan agar karyawan mendapatkan waktu yang cukup untuk menggunakan uang THR tersebut.

Bisa saja untuk keperluan zakat fitrah, memberikan THR untuk sanak keluarga, hingga beberapa ada yang menggunakannya untuk membeli baju baru.

Lalu bagaimana dengan pemberian tunjangan hari raya jika terjadi pemutusan hubungan kerja? Atau karyawan yang mengundurkan diri?

Apabila terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terhitung sejak H-30 sebelum hari raya berlangsung, maka seorang karyawan (dalam Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu/PKWTT), tetap berhak mendapatkan tunjangan hari raya.

Namun, jika sebaliknya pemutusan hubungan kerja (PHK) berakhir lebih lama dari 30 hari sebelum hari raya berlangsung, maka karyawan tersebut tidak mendapatkan hak atas pemberian tunjangan hari raya.

Lalu, apabila karyawan yang sudah memiliki masa kerja lebih dari satu tahun dan ingin mengundurkan diri, maka karyawan tersebut masih berhak atas tunjangan hari raya selama masih dalam waktu tenggang 30 hari sebelum hari raya berlangsung.

Ketentuan yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Permenaker No. 6/2016 menyebutkan bahwa pengusaha wajib memberikan THR kepada pekerja yang telah memiliki masa kerja satu bulan secara terus menerus atau lebih.

Namun, pasal tersebut hanya berlaku untuk karyawan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) atau pekerja tetap. Maka bagi karyawan yang memiliki Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), mereka tidak berhak menerima THR jika hubungan kerjanya atau kontrak kerjanya berakhir sebelum hari raya berlangsung.

BACA JUGA: Seluk Beluk Administrasi Keuangan, Pengertian dan Tujuannya di Perusahaan

Cara Menghitung THR Lebaran Karyawan Swasta

Sudahkah Anda memahami bagaimana cara menghitung THR di peraturan THR 2021? Jika belum, berikut rumus yang bisa digunakan untuk menghitung tunjangan hari raya karyawan perusahaan Anda.

Cara Menghitung THR untuk Karyawan dengan Masa Kerja Satu Tahun atau Lebih

Jika karyawan di perusahaan Anda memiliki masa kerja selama satu tahun atau lebih, maka ia berhak mendapatkan tunjangan hari raya. Jumlah tunjangan hari raya yang diterima adalah dengan sejumlah 1x gaji (di luar gaji utama).

Misalkan karyawan A mendapatkan gaji sebesar Rp3.000.000,00 di perusahaan Anda dan sudah bekerja selama satu tahun dua bulan. Cara menghitung THR adalah:

Gaji pokok + THR sejumlah 1x gaji

Rp3.000.000,00 + Rp3.000.000,00 = Rp6.000.000,00

Cara Menghitung THR untuk Karyawan dengan Masa Kerja Kurang dari Satu Tahun

Lalu bagaimana dengan karyawan yang belum memiliki masa kerja satu tahun? Sesuai dengan peraturan THR 2021, karyawan yang berhak mendapatkan tunjangan hari raya adalah karyawan yang memiliki masa kerja minimal satu bulan.

Misalkan karyawan B mendapatkan gaji Rp4.000.000,00 di perusahaan C dan memiliki masa kerja tiga bulan. Maka cara menghitung THR adalah:

Bulan lama kerja / bulan dalam setahun x gaji total

3 bulan / 12 bulan x Rp4.000.000,00 = Rp1.000.000,00

Sanksi Bagi Perusahaan yang Tidak Memberikan THR Tepat Waktu

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa, pemberian tunjangan hari raya merupakan kewajiban bagi para pemberi kerja atau pengusaha kepada para pekerja atau karyawannya.

Lalu apa sanksi bagi perusahaan yang tidak memberikan tunjangan hari raya tepat waktu kepada karyawannya? Pemerintah menetapkan sanksi yang diberikan pada perusahaan yang gagal membayar tunjangan hari raya tepat waktu.

Perusahaan akan dikenakan denda sebesar 5% dari total tunjangan hari raya yang dibayarkan. Denda ini nantinya akan dikelola dan dipergunakan bagi kesejahteraan pekerja atau buruh dan tentunya tidak menghilangkan kewajiban perusahaan untuk memberikan THR.

Lalu pada Undang-Undang No. 14 Tahun 1969 pasal 17 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja menyebutkan bahwa, perusahaan yang tidak mau membayarkan tunjangan hari raya kepada karyawannya bisa mendapatkan hukuman berupa pidana kurungan atau pidana denda.

Adanya sanksi ini bukan berarti perusahaan bisa melalaikan kewajibannya untuk memberikan tunjangan hari raya kepada karyawannya. Kemudian perusahaan juga harus mengadakan dialog terbuka yang didasarkan atas asas kekeluargaan dan disertai informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan.

Manfaat THR bagi Karyawan Swasta

Tujuan utama dari pemberian THR adalah untuk memastikan kesejahteraan pekerja atau buruh selama hari raya berlangsung. Hal ini juga berdasarkan pada kebutuhan harga pokok yang naik pada tangga-tanggal hari besar.

Selain itu, karyawan sendiri juga memiliki rencana atau keperluan lain yang ingin dilakukan. Disinilah tunjangan hari raya yang diberikan perusahaan bisa membantu. Uang THR bisa digunakan karyawan untuk hal-hal tersebut.

Berikut beberapa manfaat pemberian tunjangan hari raya bagi karyawan swasta:

  • Mengurangi utang konsumtif yang biasa dikeluarkan masyarakat selama hari raya berlangsung
  • Menjadi modal keluarga untuk keperluan mudik atau acara keluarga lainnya
  • Sebagai biaya untuk keperluan keagamaan, seperti pembayaran zakat, infak, acara natal, dan lain sebagainya
  • Menjadi sumber keuangan keluarga untuk kebutuhan pokok yang harganya meningkat drastis
  • Sebagai dana tambahan untuk keluarga karyawan yang ingin berlibur selama hari raya berlangsung

Perlu diingat dan diketahui kembali bahwa pemberian tunjangan hari raya kepada karyawan bersifat wajib dan akan ada sanksi yang menanti jika perusahaan telat atau tidak memberikan THR.

Oleh karena itu, jangan sampai perusahaan Anda mendapatkan sanksi dari pemerintah dalam bentuk apapun.

Daripada ribet dan pusing memikirkan cara hitung THR untuk setiap karyawan di perusahaan, lebih baik daftarkan diri Anda untuk memasang lowongan staff HRD di KitaLulus.

Perlu diketahui, sekarang KitaLulus sudah beroperasi di Jabodetabek, Bandung, Makassar, Surabaya, Medan, Semarang, dan Gowa. Dapatkan calon kandidat staff HRD yang berkualitas bersama KitaLulus mulai dari sekaran

Ikuti BangLulus di sosial media
KitaLulus on Facebook
instagram kitalulus
Tiktok